Bayangkan sebuah solusi yang bisa memangkas masalah perumahan, menggerakkan ekonomi, dan bahkan membuka lapangan kerja baru di berbagai sektor.
Itulah harapan besar yang disematkan pada wacana penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus sektor properti, terutama bagi pengembang skala UMKM. Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), Junaidi Abdillah, menyambut wacana ini dengan penuh antusiasme. Bahkan, ia berpendapat bahwa ini adalah langkah yang tepat meskipun terlambat.
Dalam perbincangan eksklusif dengan Kompas.com pada Senin (21/7/2025), Junaidi menyoroti potensi KUR dalam menggenjot industri properti dan efek dominonya terhadap perekonomian nasional.
"Di tengah daya beli masyarakat yang sedang lesu, memperkuat pembiayaan melalui KUR adalah langkah cerdas dari pemerintah," ujarnya.
KUR Perumahan Mendesak
Menurutnya KUR Perumahan seharusnya diterapkan sejak dulu. Khususnya untuk mendukung sisi pasokan karena pengembang sangat membutuhkan dukungan pembiayaan. Junaidi mengungkapkan, kebijakan ini sudah sangat dinantikan. Selama ini, sektor properti seolah luput dari perhatian sebagai objek KUR. Padahal banyak pengembang Apersi yang masuk kategori usaha menengah dengan omset antara Rp 2,5 miliar hingga Rp 50 miliar per tahun.
Faktanya, sebagian besar anggota Apersi, khususnya para pengembang KPR bersubsidi, adalah pengusaha pemula. Diperkirakan sekitar 50 persen anggota Apersi memiliki omset di bawah Rp 50 miliar per tahun, menjadikannya target yang sangat cocok untuk menerima KUR. "Ini adalah segmen yang selama ini kesulitan akses pembiayaan bank komersial layaknya pengembang besar," ucapnya.
Namun demikian, Junaidi tidak menutup mata bahwa masalah fundamental di sektor perumahan sangatlah kompleks dan multifaktor. "Banyak faktor. Termasuk tanah, perizinan, sertifikat, pembiayaan," jelasnya.
"Banyak faktor. Termasuk tanah, perizinan, sertifikat, pembiayaan," jelasnya. Masalah-masalah klasik ini, sayangnya, belum juga terselesaikan dengan baik, meskipun Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) telah gencar mendorong kolaborasi antarinstitusi. Ia memberi contoh nyata harga tanah, terutama untuk rumah subsidi, semakin sulit dikendalikan.
Ini menjadi beban berat bagi pengembang, terutama yang menargetkan segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Kemudian masalah birokrasi yang berbelit, biaya mahal, dan proses panjang untuk sertifikasi tanah masih menjadi keluhan klasik.
Junaidi bahkan menyebut kasus di Mamuju, Sulawesi Barat, sebagai contoh betapa parahnya masalah sertifikasi di lapangan, ditambah lagi dengan perizinan yang seringkali berbelit-belit. Kondisi ekonomi global yang kurang membaik turut memperburuk kondisi keuangan para pengembang. "Di sinilah KUR dapat memainkan peran krusial," ucap Junaidi.
Tak hanya untuk pengembang, Junaidi juga menyoroti pentingnya KUR untuk industri ikutan (turunan) dalam sektor properti. Bayangkan para pengrajin batako, genteng, hingga industri suplai pasir. "Itu kan UMKM yang kecil-kecil. Kalau ini juga di-support oleh KUR kan juga salah satu KUR yang tepat sasaran semua," tambahnya, menegaskan bahwa KUR dapat menjadi injeksi darah segar bagi ekosistem properti secara menyeluruh.
Lonjakan Produksi
Apersi pun menaruh harapan besar agar KUR perumahan ini bisa segera terealisasi. Target utamanya jelas, mempercepat produksi rumah, terutama dalam rangka memenuhi target ambisius pemerintah untuk penyediaan 3 juta rumah. "Harapan kami secepatnya bagaimana produksi rumah itu bisa lari cepat dalam rangka pemenuhan salah satunya 3 juta rumah ya percepatan," tegas Junaidi.
Dengan dukungan KUR, pengembang yang kondisi keuangannya sempat terganggu akibat dampak ekonomi dapat kembali bergerak kencang.
Bagi pengembang besar, pembiayaan biasanya masuk dalam wilayah kredit komersial. Namun, bagi pengembang kecil, akses terhadap pembiayaan yang terjangkau seperti KUR sangat esensial. Junaidi sangat menyambut positif inisiatif ini, melihatnya sebagai salah satu kunci percepatan produksi rumah. Meskipun belum ada proyeksi spesifik jika KUR ini berjalan, Apersi sangat optimistis.
Angka rutin produksi rumah Apersi per tahun rata-rata 100.000 unit. Pada tahun sebelumnya, target ini terhambat karena kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang berkurang. Dengan adanya dukungan KUR Perumahan pada sisa tahun 2025 ini, Junaidi optimistis produksi bisa melebihi angka 100.000 unit.
Ia juga menekankan bahwa KUR Perumahan akan menjadi daya ungkit ganda bagi ekonomi dan industri yang terkait. Jika KUR ini berjalan lancar, bukan tidak mungkin produksi rumah bisa dua kali lipat dari angka 100.000 unit rutin per tahun, bahkan pada sisa 6 bulan terakhir tahun 2025 ini. (Sumber: Kompas.com)