Refleksi Perumahan Nasional 2025, Sudahkah Sesuai Visi Bung Hatta?

2025-08-25 10:35:19

Add to bookmarkAdded

Setiap tanggal 25 Agustus, pemerintah memperingati Hari Perumahan Nasional (Hapernas). 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan ini kembali diisi dengan ziarah ke makam Wakil Presiden Pertama RI Mohammad Hatta atau Bung Hatta, yang dikenal sebagai penggagas perumahan rakyat. Namun, di balik ritual tahunan tersebut, muncul pertanyaan: sudahkah kebijakan perumahan di Indonesia berjalan sesuai dengan visi Bung Hatta?

Pengamat Perumahan dan Permukiman Jehansyah Siregar menilai kegiatan ziarah tersebut sekadar menjadi ritual pencitraan. Menurutnya, pesan Bung Hatta untuk sungguh-sungguh merumahkan seluruh rakyat hingga kini tak kunjung diwujudkan. "Penyediaan perumahan oleh pemerintah di Indonesia pada usia ke-80 kemerdekaan ini justru semakin menjauh dari visi Bung Hatta," ujar Jehansyah saat dihubungi Kompas.com, Senin (25/8/2025).

Visi Bung Hatta: Perumahan Layak untuk Semua

Bung Hatta, dalam pidatonya pada Kongres Perumahan Rakyat tahun 1950, pernah menetapkan target yang visioner. Ia menginginkan agar pada pergantian abad, yakni tahun 2000, seluruh rakyat Indonesia sudah hidup sejahtera dengan menempati rumah yang layak di lingkungan permukiman yang sehat. Namun, realitas berjalan jauh dari harapan tersebut. Menurut Jehansyah, setiap pergantian pemerintahan justru menyisakan semakin banyak masyarakat yang hidup di kawasan kumuh dan jauh dari kata layak.

"Pemerintah gagal menangkap pesan Bung Hatta soal perumahan rakyat. Nomenklatur perumahan rakyat pun bergeser menjadi perumahan dan kawasan permukiman yang secara konsep semakin menjauh dari semangat awal," kata Jehansyah. 

Pergantian istilah tersebut juga mencerminkan perubahan orientasi. Bung Hatta menekankan perumahan rakyat sebagai program yang berpihak pada golongan miskin dan berpenghasilan rendah. Namun, kebijakan yang berlaku saat ini lebih condong ke arah penyediaan perumahan untuk kelompok menengah dan atas.

"Konsep perumahan rakyat yang seharusnya menguatkan peran negara dalam mengelola sumber daya kunci seperti tanah dan prasarana, kini semakin menyimpang dengan kebijakan yang liberal. Pemerintah menyerahkan tanggung jawab merumahkan rakyat kepada bisnis properti," ujar Jehansyah.

Sistem Perumahan yang Tak Kunjung Tumbuh

Jehansyah menjelaskan, Bung Hatta bukan tanpa alasan ketika menargetkan housing for all dalam jangka waktu 50 tahun. Sebagai seorang tokoh yang banyak belajar dari sistem negara kesejahteraan di Eropa, Bung Hatta memahami bahwa pembangunan sistem perumahan membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh. 

"Baik berupa public housing system, self-help housing system, maupun social housing system, semua sistem itu butuh waktu," jelas Jehansyah.

Sayangnya, pemerintah tidak benar-benar memahami cita-cita tersebut. Sistem public housing hingga kini tidak berkembang, selain melalui proyek rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang banyak diwarnai perencanaan setengah hati dan pengelolaan yang buruk. 

Hal serupa juga terjadi pada program community based housing. Alih-alih menjadi sistem pembangunan perumahan berbasis komunitas yang kuat, program ini justru bergeser menjadi sekadar proyek bedah rumah yang menyerupai bantuan sosial.

Sementara program pembangunan 1 Juta Rumah per tahun yang telah berjalan sebelumnya, semula digadang sebagai solusi, dalam praktiknya masih menghadapi banyak hambatan. Mulai dari keterbatasan lahan, harga tanah yang terus melambung, hingga minimnya keberpihakan pada masyarakat berpenghasilan rendah. 

Jehansyah menekankan bahwa akar persoalan perumahan di Indonesia bukan semata-mata soal kuantitas pembangunan rumah, melainkan ketiadaan sistem perumahan rakyat yang berkesinambungan.

Langkah Kementerian PKP

Untuk memeringati Hapernas 2025, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait didampingi keluarga Bung Hatta melakukan ziarah ke makam Bung Hatta di Taman Makam Proklamator, Jakarta, Minggu (24/8/2025). 

Maruarar menyoroti pentingnya integritas dan transparansi. Ia menekankan bahwa pemimpin harus berani mengambil tindakan terhadap korupsi, bahkan dari internal, untuk memastikan setiap program terlaksana dengan bersih dan efektif. 

Hal ini sejalan dengan teladan Bung Hatta, yang dikenal sebagai sosok pemimpin yang jujur dan berintegritas tinggi.

"Pada Hari Perumahan Nasional, pesan Bung Hatta dan para pendahulu menggema kembali, dengan kesungguhan, pasti ada jalan," kata Maruarar. 

Ini adalah pengingat bagi seluruh elemen bangsa, bahwa dengan persatuan dan gotong royong, mimpi memiliki rumah layak dapat diwujudkan untuk setiap keluarga Indonesia, sekaligus menegakkan harkat dan martabat bangsa. (Sumber: Kompas.com)