Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) siap mendukung program Kebun Pangan Lokal Perempuan (KPLP) melalui penyediaan dan legalisasi tanah untuk pelaksanaan program tersebut. Wakil Menteri (Wamen) ATR/Wakil Kepala (Waka) BPN Ossy Dermawan mengatakan, dukungan ini difokuskan pada aspek perolehan lahan serta kepastian hukum tanah yang akan digunakan sebagai lokasi pilot project (proyek percontohan).
“Pada prinsipnya, Kementerian ATR/BPN sangat mendukung program ini, terlebih karena berkaitan dengan peningkatan ketahanan ekonomi perempuan dan keluarga. Karena, ini juga akan sangat berdampak pada meminimalisir tindak kekerasan terhadap perempuan dan juga anak-anak,” ujar Ossy. Dia menjelaskan, Kementerian PPPA diharapkan terlebih dahulu menentukan lokasi yang paling sesuai untuk program tersebut. Selanjutnya, Kementerian ATR/BPN akan membantu dalam proses legalitas sesuai dengan status tanah yang dipilih.
Untuk tanah telantar, penanganannya berada dalam kewenangan Kementerian ATR/BPN. Sementara itu, untuk tanah milik instansi lain seperti TNI, BUMN, maupun pemerintah daerah, diperlukan kepastian status clean and clear serta persetujuan pelepasan dari pemilik sebelum dapat dimanfaatkan. “Untuk tanah yang bukan tanah telantar harus secara sukarela ingin dilepas oleh mereka, kemudian dilepaskan kepada negara, kemudian pemanfaatannya bisa diberikan kepada Kementerian PPPA untuk diserahkan kepada siapa pun subjek yang akan diberikan. Lalu ada juga di Bank Tanah, ini juga mungkin perlu koordinasi kepada Badan Bank Tanah,” jelas Ossy.
Pengelolaan Kebun Berbasis Komunitas
KPLP merupakan inisiatif pemberdayaan perempuan melalui pengelolaan kebun pangan berbasis komunitas. Program ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan, pemenuhan gizi keluarga, serta mendorog kemandirian ekonomi perempuan.
Wakil Menteri (Wamen) PPPA Veronica Tan, menyampaikan bahwa program ini sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia, termasuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. “Kebun Pangan Lokal Perempuan ini dapat menjadi wadah pembelajaran yang praktis, mulai dari pemenuhan gizi hingga aktivitas produktif. Bahkan, ini juga bisa menjadi ruang edukasi bagi anak-anak, dengan perempuan sebagai penggerak utamanya,” tutup Veronica. (Sumber: kompas.com)