Sukses mengorkestrasi kompetensi puluhan ribu bankir syariah, kolaborasi antara Asbisindo Institute dan platform edutech Vocasia kini mulai melebarkan sayapnya ke sektor riil. Dalam pengembangan strategisnya, platform pembelajaran digital ini mulai membidik sektor properti sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Langkah ini menyusul peluncuran platform e-learning terintegrasi yang diresmikan di BSI Tower, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Inisiatif ini dirancang untuk menjawab tantangan digitalisasi serta memenuhi standar ketat Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Lumbung Coin Eco Resort
Meski fokus utama saat ini adalah memperkuat kapasitas 50.000 bankir syariah, Farid Subkhan, Chairman Vocasia, mengungkapkan bahwa teknologi pembelajaran ini bersifat sangat fleksibel dan scalable.
Hal ini memungkinkan platform edutech ini untuk menjalin kemitraan dengan sektor-sektor strategis lainnya, termasuk industri properti. Farid membocorkan, dalam waktu dekat, pihaknya akan berkolaborasi dengan perusahaan properti terintegrasi untuk mengaplikasikan model pembelajaran serupa.
"Dalam waktu dekat, kami juga akan bermitra dengan institusi di bidang perusahaan properti terintegrasi, Lumbung Coin Eco Resort di Malang, Jawa Timur," ungkap Farid. Langkah ini menandai pergeseran penting di mana sektor properti, khususnya yang mengusung konsep eco-resort, membutuhkan standardisasi SDM yang mumpuni melalui sistem e-learning yang terorkestrasi dengan baik.
Menjawab Gap Digital melalui Kolaborasi Strategis
Peluncuran platform ini merupakan respon langsung terhadap arahan Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia, Muliaman Darmansyah Hadad, yang menyoroti adanya digital gap dalam pengembangan SDM. Sebagai penyedia teknologi, platform ini memastikan infrastruktur pembelajaran tersedia 24/7, lengkap dengan fasilitas studio produksi konten. Sementara itu, Asbisindo Institute bertindak sebagai penjaga substansi materi. "Kehadiran kita untuk membantu agar insan perbankan syariah terorkestrasi dalam satu platform e-learning. Vocasia bertindak sebagai technology provider yang serius mengelola platform dan fasilitas produksi konten, sementara Asbisindo fokus pada substansi kompetensi," jelas Farid.
Sementara itu, Ketua Asbisindo Institute, Wahyu Avianto, menjelaskan bahwa bankir saat ini menghadapi tekanan pekerjaan yang tinggi dengan kebutuhan hingga 91 jenis kompetensi. Oleh karena itu, fleksibilitas menjadi kunci utama. "Bankir itu punya kesibukan tinggi, jadi kita kembangkan cara learning yang lebih fleksibel di era kekinian. Semuanya serba digital 24/7.
Meski berbasis aplikasi, kami tetap memastikan standar fasilitator dan materi melalui review ketat bersama LSP Keuangan Syariah," papar Wahyu. Pada tahap awal, platform ini difokuskan pada Program Pemeliharaan Sertifikasi Manajemen Risiko (PPSMR) Jenjang 4 hingga 6. Namun, untuk level direksi (Jenjang 7), pelatihan tetap dilakukan secara luring demi menjaga kedalaman interaksi strategis.
Ketua Umum Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Anggoro Eko Cahyo, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI), menambahkan pentingnya akses ilmu tanpa batas ruang dan waktu. “Pemanfaatan teknologi pembelajaran menjadi sarana penting untuk mengakses ilmu tanpa batas ruang dan waktu. Platform ini adalah wadah berbagi pengetahuan yang scalable dan selaras dengan kebutuhan industri yang terus berkembang,” pungkas Anggoro. (Sumber: kompas.com)