1.500 Pulau Terancam Lenyap pada 2050, akibat Kenaikan Air Laut

2026-09-18 06:35:35

Add to bookmarkAdded

Kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim dinilai menjadi ancaman serius bagi Indonesia, termasuk terhadap keberadaan ribuan pulau yang selama ini menjadi bagian dari wilayah negara. Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono mengatakan, kenaikan muka air laut pada 2050 diproyeksikan mencapai sekitar 56 cm. 

Kondisi tersebut berpotensi membuat sekitar 1.500 pulau di Indonesia terdampak hingga hilang. Hal itu disampaikan Dhiaz saat membahas tantangan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan dalam acara Urban Climate Change 2026 di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

"Kalau air laut naik 56 cm tahun 2050, ini ada pembahasan namanya Mental Growth bilang 1.500 pulau Indonesia akan tergelam, 1.500," ujar Dhiaz. Menurut dia, ancaman tersebut tidak berhenti pada berkurangnya jumlah pulau. Kenaikan muka air laut juga akan berdampak langsung terhadap ketersediaan lahan yang dapat dihuni manusia.

Dhiaz mengatakan, persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena kebutuhan terhadap lahan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk. "Indonesia sudah tidak akan punya 17.000 pulau lagi," kata dia. 

Suhu Bumi Terus Naik

Dhiaz menjelaskan, perubahan iklim bukan lagi persoalan yang hanya akan dirasakan dalam jangka waktu ratusan tahun. Dia mengutip perhitungan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang menunjukkan adanya peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi dibandingkan periode sebelum revolusi industri. Pada periode 1850-1900, suhu rata-rata global berada di kisaran 13,6 derajat celsius-13,7 derajat celsius. 

Sementara saat ini, menurut Dhiaz, suhu rata-rata global telah mencapai sekitar 15,1 derajat celcius-15,2 derajat celsius. Artinya, telah terjadi kenaikan sekitar 1,4 derajat celcius-1,6 derajat Celsius dibandingkan periode tersebut. Dhiaz mengatakan, ambang kenaikan suhu 1,5 derajat celsius yang selama ini menjadi perhatian dalam pembahasan perubahan iklim sudah beberapa kali terlampaui, meski belum berlangsung secara persisten.

Dia juga menyebut sejumlah kota di Indonesia, seperti Jakarta, Semarang, dan Makassar, mengalami peningkatan suhu yang dikaitkan dengan aktivitas manusia dan perubahan iklim. 

Es Pegunungan Papua Menyusut 

Dampak perubahan iklim, lanjut Dhiaz, juga dapat dilihat dari kondisi lapisan es di kawasan Pegunungan Jayawijaya, Papua. Dia membandingkan ketebalan es di kawasan tersebut yang pada 2010 masih mencapai sekitar 3 meter lebih dengan kondisi terkini yang menurutnya hanya menyisakan sekitar 4 meter. Dhiaz mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa istilah "salju abadi" di Indonesia tidak lagi dapat dianggap benar-benar abadi. 

It is no longer eternal. There is no eternal snow on Jaya Wijaya (Itu tidak lagi abadi, tidak ada lagi salju abadi di Jaya Wijaya). sudah enggak ada lagi dalam waktu dekat," ujarnya. 

Hujan Ekstrem Bisa Makin Sering 

Selain kenaikan muka air laut, perubahan iklim juga berpotensi meningkatkan frekuensi hujan ekstrem dan bencana hidrometeorologi.

Dhiaz mencontohkan curah hujan lebih dari 400 milimeter per hari yang sebelumnya dianggap sebagai kejadian dengan periode ulang sangat panjang. Menurut dia, kondisi tersebut dapat terjadi lebih sering dalam beberapa dekade mendatang. "Indonesia akan mengalami hujan super lebat lebih sering. Jadi bencana hidrometeorologis seperti yang ada di Sumatera akan lebih sering," kata Dhiaz. Kondisi itu dinilai perlu menjadi pertimbangan dalam perencanaan kawasan perkotaan dan pembangunan perumahan. (Source: kompas.com)