Awal Mula Menteng, Kota Taman untuk Orang Kaya Hindia Belanda

2026-10-06 06:46:15

Add to bookmarkAdded

Menteng di Jakarta Pusat selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman elite di Indonesia. Kawasan ini menjadi tempat tinggal sejumlah tokoh penting, mulai dari pejabat negara, politikus, perwira militer, hingga kalangan pengusaha. Beberapa nama yang pernah menetap di Menteng antara lain Presiden kedua RI Soeharto, Wakil Presiden pertama Mohammad Hatta, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, Mohammad Natsir, Jenderal AH Nasution, Subandrio, dan Soedarpo Sastrosatomo. Namun, citra Menteng sebagai kawasan elite baru terbentuk setelah melalui perjalanan sejarah yang panjang. Kawasan tersebut mulai dikembangkan sebagai permukiman modern pada awal abad ke-20.

Pada masa awal pembangunannya, Menteng Jakarta dikenal dengan nama Nieuw Gondangdia. Kawasan ini dirancang sebagai permukiman bagi kelompok masyarakat kelas atas, terutama warga Eropa kaya yang bermukim di Hindia Belanda. 

Awal Perkembangan Menteng 

Mengutip buku Data Pengkajian Kawasan Menteng dan Gedung-gedung yang Terkait dengan Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), sejarah Menteng berkaitan erat dengan perkembangan Batavia pada awal abad ke-19.

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, pusat pemerintahan Batavia dipindahkan ke kawasan bagian selatan kota lama yang dikenal dengan Weltevreden. Perubahan kemudian terus berlangsung seiring dengan bergesernya kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Pada abad ke-19, sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel mulai dihapus secara bertahap. Pemerintah Hindia Belanda juga membuka akses yang sebelumnya membatasi orang-orang dari luar, khususnya warga Eropa, untuk memasuki wilayah Hindia Belanda di luar kepentingan pemerintahan. Kebijakan tersebut menyebabkan jumlah penduduk Eropa di Hindia Belanda terus bertambah. 

Pada periode yang sama, pemerintah Hindia Belanda menjalankan Kebijakan Etis. Kebijakan ini antara lain mencakup upaya memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat pribumi, meningkatkan kualitas lingkungan permukiman, membangun sekolah, serta memberikan peluang kepada penduduk pribumi untuk bekerja sebagai pegawai pemerintahan. Bertambahnya jumlah orang Eropa juga diikuti dengan berkembangnya aktivitas ekonomi. Berbagai jenis usaha mulai bermunculan, termasuk bisnis yang berkaitan dengan sektor agrobisnis. Pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi akhirnya membuat sejumlah wilayah perkotaan semakin padat. Salah satunya adalah Weltevreden.

Kondisi tersebut kemudian menciptakan kebutuhan terhadap kawasan permukiman baru. 

Moojen Merancang Nieuw Gondangdia 

Kebutuhan hunian baru tersebut kemudian melahirkan rencana pembangunan Nieuw Gondangdia. Arsitek yang berada di balik rancangan kawasan tersebut adalah Pieter Adriaan Jacobus Moojen, yang ketika itu bekerja di Dewan Kota Praja Batavia. Moojen merancang Nieuw Gondangdia menggunakan konsep kota taman atau tuinstad. Dalam konsep tersebut, ruang terbuka hijau, pepohonan, jalan yang lebar, dan lingkungan yang nyaman menjadi bagian penting dalam perencanaan kawasan. Moojen tidak hanya menjadi anggota Dewan Kota Praja. Ia juga tercatat sebagai anggota Commisie van toesicht op het beheer van het land Menteng atau Komisi Pengawasan Pengurusan Tanah Menteng, yang kemudian dikenal sebagai Kondangdia-commissie. Komisi tersebut memiliki tugas untuk merancang dan membangun kawasan Nieuw Gondangdia. 

Rancangan Moojen diajukan pada 1910. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1912, proposal tersebut mendapatkan persetujuan dari pemerintah Hindia Belanda. Dalam merancang kawasan tersebut, Moojen dikenal tidak mengikuti gaya arsitektur Imperial dan Ornamental yang sarat dekorasi. Ia justru mengembangkan rancangan hunian yang lebih sederhana dan mengutamakan fungsi. Desain bangunan di Nieuw Gondangdia memadukan arsitektur Barat dengan elemen tradisional serta menyesuaikannya dengan karakter iklim tropis di Hindia Belanda.

Pendekatan arsitektur tersebut kemudian dikenal sebagai Indische Bouwstijl. 

Perusahaan Real Estate Pertama 

Pembangunan Nieuw Gondangdia kemudian diwujudkan melalui perusahaan yang didirikan Moojen, yakni N.V. de Bouwploeg. Perusahaan tersebut dikenal sebagai salah satu perusahaan real estate pertama yang berdiri di Hindia Belanda. Moojen selanjutnya mengajak sejumlah arsitek untuk ikut mengembangkan kawasan tersebut. Di antaranya Frans Johan Louwrens Ghijsels, J.F. van Haytema, H. van Essen, dan F.J. Kubatz. 

Pada 1922, Kubatz mengambil alih tugas Moojen dan mendapat mandat untuk menyempurnakan rancangan kawasan yang sebelumnya telah dibuat. Salah satu bangunan yang memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan Nieuw Gondangdia adalah kantor pusat Bouwploeg. Nama Bouwploeg kemudian dikenal masyarakat Betawi dengan sebutan Boplo. Kantor tersebut menjadi salah satu akses utama menuju kawasan permukiman elite Nieuw Gondangdia. 

Dalam merancang gedung Bouwploeg, Moojen juga memperhatikan aspek pencahayaan dan sirkulasi udara. Bangunan dibuat dengan langit-langit yang tinggi serta jendela berukuran besar untuk memaksimalkan masuknya cahaya matahari. Jendela yang tinggi dan lebar di berbagai sisi bangunan juga dirancang agar sirkulasi udara berlangsung lebih optimal. Bangunan yang dahulu digunakan sebagai kantor Bouwploeg tersebut kini dikenal sebagai Masjid Cut Meutia. (Source: kompas.com)